Thursday, February 15, 2018

Napak Tilas Rawa Bayu, Tempat Bertapa Prabu Tawang Alun


Info Penting/Wisata
Ada salah satu tempat yang dari semasa SMP membuat saya amat sangat penasaran. Penasaran bukan karena cerita mistis atau sejarah masa lampau yang melatarbelakangi tempat ini, tapi karena dulu teman-teman sebaya sejak SMP hingga SMA selalu bercerita setelah mendatangi tempat ini, sementara saya hanya mendengarkan cerita mereka tanpa pernah memiliki kesempatan untuk datang ke sana. Maklumlah, dahulu saya hanya anak rumahan yang cuma punya jadwal kegiatan tidur - sekolah - makan - ngaji - belajar - tidur lagi - sekolah lagi. Gitu-gitu terus selama masa sekolah. Sehingga ketika ada kesempatan, saya tidak lupa untuk menjajal berkunjung ke tempat ini. Rawa Bayu.

Rawa Bayu atau yang biasa masyarakat lokal sebut dengan Rowo Bayu, merupakan sebuah rawa dengan air berwarna hijau jernih yang merupakan tempat bertemunya tiga mata air. Yaitu, Sendang Kaputren, Sendang Wigangga dan Sendang Kamulyan.

Lokasi Rawa Bayu
Lokasi Rawa Bayu sendiri berada di area hutan pinus seluas 8 hektar dan berlokasi di Desa Bayu dan terletak di lereng Gunung Raung. Sehingga jika kamu merasakan hawa dingin dan tengkuk merinding, bisa jadi karena memang udara di sana sangat dingin karena berada di lereng gunung.


Untuk bisa mencapai lokasi ini memang sedikit sulit, karena lokasinya yang berada di ujung barat Kecamatan Songgon, dan tidak ada angkutan umum yang mengarah ke sana. Angkutan umum atau angkot berwarna merah jurusan Songgon hanya beroperasi hingga Pasar Songgon, sehingga untuk melanjutkan perjalanan menuju Rawa Bayu kamu harus menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil.

Akses jalan menuju Rawa Bayu sudah diperbaiki dan berupa aspal mulus. Sepanjang perjalanan kamu akan dimanjakan pemandangan persawahan yang hijau dengan jalan yang cukup menanjak ketika hampir mendekati lokasi. Selepas pintu masuk Rawa Bayu, kamu akan menemukan jalan berbatu terjal, tapi tidak jauh, hanya sekitar 500 meter kemudian kamu akan sampai di Rawa Bayu.



Begitu masuk kamu akan menemukan Rawa dengan air yang hijau dan cukup jernih, juga rumah pohon yang berada di atas bukit dan salah satu rumah warga yang merupakan penjaga lokasi tersebut. 

Di sana kamu bisa melihat tiga mata air yang suci yang biasa dijadikan tempat untuk beridam diri. Selain itu, ada juga situs dari Raja Blambangan, Prabu Tawangalun, berupa sebuah Candi yang bernama Candi Puncak Macan Putih dan Petilasan Pertapaan Prabu Tawangalun. Untuk mencapai kedua situs tersebut, kamu harus naik ke atas bukit yang sedikit masuk ke dalam hutan, dan lokasinya tidak terlalu jauh dari Rawa Bayu.




Sejarah Rawa Bayu

Meski sekarang tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang cukup menarik di Banyuwangi, tapi siapa sangka jika tempat ini dahulu memiliki sejarah yang cukup kelam. Ada dua sejarah penting yang melatarbelakangi tempat ini, yang pertama yaitu sejarah mengenai Prabu Tawangalun yang konon sempat membangun sebuah keraton atau Kerajaan Blambangan di lokasi ini, sebelum akhirnya beliau memindahkan Kerajaan Blambangan di Desa Macan Putih Kecamatana Kabat. Oleh sebab itu, di lokasi ini terdapat petilasan atau tempat yang dahulu digunakan Prabu Tawangalun untuk berdiam diri atau bersemedi.

Sejarah kedua, yaitu berhubungan dengan perang Puputan Bayu atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti, Perang habis-habisan. Perang Puputan Bayu dimulai ketika Belanda dan ekspedisi militer VOC datang ke Kerajaan Blambangan untuk membantu melepaskan pengaruh Kerajaan ini dari Kerajaan Kerajaan Hindu di Bali pada tahun 1767. Hanya dalam waktu satu bulan Belanda mampu mengalahkan Kerajaan Bali dan mengusirnya dari Kerajaan Blambangan. Perang baru dimulai ketika, Wong Agung Wilis yang merupakan saudara tiri dari Pangeran Adipati Danuningrat dan juga Patih terakhir Kerajaan Blambangan, melakukan pemberontakan dengan menyerang Belanda.

Hanya dalam waktu singkat Belanda berhasil mengalahkan pasukan pemberontak dan membunuh Willis. Kemudian Belanda menunjuk salah satu keluarga Bupati Surabaya untuk menjadi Bupati Blambangan, agar Blambangan dapat terlepas dari pengaruh Kerajaan Hindu Bali untuk program Jawanisasi dan Islamisasi.

Namun rupanya warga Blambangan menolak aksi tersebut hingga muncul kelompok sentinem Anti Jawa dan Anti Islam. Pemberontakan pun kembali terjadi dan kali ini dipelopori oleh Jagapati. Dengan bantuan Kerajaan Mangwi, Jagapati membangun benteng di Desa Bayu dan mulai menyerang pemerintahan VOC. Awalnya pasukan Jagapati berhasil menang dengan membunuh dua pemimpin VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tine.

Mengetahui dua pemimpin VOC tewas di tangan Jagapati, Belanda murka lalu menurunkan pasukan dari Surabaya, Madura dan Besuki dan membakar lumbung-lumbung padi yang berada di Desa Bayu. Hal ini membuat pasukan Jagapati didera krisis pangan dan kelaparan. Di saat itulah Belanda menyerang dan menghabisi pasukan Jagapati, dalam perang yang disebut dengan Puputan Bayu.

Akibat perang ini, konon populasi rakyat asli Blambangan berkurang dari 80.000 jiwa menjadi hanya 8.000 jiwa saja.

Perang Puputan Bayu merupakan salah satu perang paling berdarah dan kejam di Indonesia. Konon Jagapati dan pasukannya yang kalah dalam peperangan, dipenggal lalu kepalanya digantung di pepohonan sekitar Rawa Bayu.

Situs peninggalan dari benteng yang dibangun Jagapati tidak pernah ditemukan hingga kini, dan untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun sebuah tugu yang diberi nama Tugu Puputan Bayu dan diletakkan di depan pintu masuk Desa Bayu.


Selain sejarah yang terdapat pada Rawa Bayu, tempat ini memiliki daya tarik lain bagi kamu yang menyukai suasana alam yang masih asri dan hijau. Saya sendiri sangat menikmati perjalanan menuju Rawa Bayu yang dihiasi oleh hijaunya sawah dan hutan pinus. Bagi kamu yang menyukai ketenangan, tempat ini bisa jadi rekomendasi dan jangan lupa dimasukkan ke dalam list liburan kamu akhir pekan nanti. Karena selain Rawa Bayu kamu juga bisa mampir ke Air Terjun Pertemon yang berada tak jauh dari lokasi Rawa Bayu.



Bagikan

Jangan lewatkan

Napak Tilas Rawa Bayu, Tempat Bertapa Prabu Tawang Alun
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

16 komentar

Tulis komentar
avatar
February 15, 2018 at 2:25 AM

Tempat yang penuh sejarah dan perjuangan ya mba :D

Reply
avatar
February 15, 2018 at 2:42 AM

Gilaaa itu abis semua tinggal 10% ya gara-gara perang. ._.
Seru banget sih sempet ke tempat kayak gini dan gak ujan. Akhir2 ini cuacanya kan lagi parah banget sih. Huhhuu.

Reply
avatar
February 16, 2018 at 6:10 PM

wah, jadi akses masuknya bakalan sulit nih karena tidak ada jasa angkutan. terus pas hujan bakalan ribet nih, berteduh dulu kayaknya nih.

Reply
avatar
February 18, 2018 at 12:33 AM

Saya tertarik dengan cerita sejarahnya. LEbih menambah waawan kasanah tentang perkembangan islam dan penolakannya. Walau tidak teruarai dngan lengkap.

Reply
avatar
February 20, 2018 at 1:04 AM

Di tempat saya ada juga lho petilisan seperti candigitu, dan nasibnya ya hampir sama dengan yang ada di artikel ini.

Dan itu ya allah, dari 80ribu tinggal8 ribu ....Keren, nambah pengetahuan sejarah islam ini...

Reply
avatar
February 20, 2018 at 4:16 PM

saya suka wisata sejarah semacam ini, biasanya tempatnya pun asyik alami, keren

Reply
avatar
March 2, 2018 at 8:06 AM

Rawanya kelihatannya ngga gitu luas,ya.
Tapi keren pemandangannya.
Juga ada bangunan candi yang apik.

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:42 PM

makanya sekarang ini suku osing banyuwangi hanya tersisa sedikit aja dan mereka menetap di salah satu daerah dekat kaki gunung Ijen.

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:43 PM

kalau akses jalan udah nggak sulit sih asal pakai kendaraan pribadi. jalannya juga udah jauh lebih baik dibanding dulu

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:44 PM

nanti bisa diuraikan secara lengkap di postingan lain om. karena ini fokus sama wisatanya dulu.

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:45 PM

sebenarnya di Indonesia ini punya banyak tempat seperti itu, hanya tidak terawat dan kebanyakan juga dirusak saat masa perang lawan penjajah.

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:45 PM

yang jelas tempatnya masih alami dan jauh dari jangkauan manusia

Reply
avatar
March 13, 2018 at 4:46 PM

rawanya emang nggak begitu luas sih tapi cukuplah buat ngademin mata heheheh

Reply
avatar
March 13, 2018 at 6:43 PM

Hehehe .. iya,betul 😁
Travelling ke lokasi subur ijo royo-royo kayak gini bikin mata jadi seger dan pikiran jadi adem.

Reply
avatar
July 8, 2018 at 11:20 PM

Wah tempatnya kelihatan asri dan bersih ya

Reply

Selamat datang di Blognya Mbak Cupid. Bagaimana tanggapan kamu tentang artikel ini? Yuk, kasih tanggapanmu di bawah ini ya!